Kegagalan Strategi Trump dalam Melancarkan Perang Iran Menarik Sorotan Media Barat

Terdapat penilaian kritis terhadap pendekatan Donald Trump yang konfrontatif terhadap Iran yang kini menjadi sorotan utama dalam berbagai media Barat. Kebijakan ini dianggap kurang matang secara strategis, merugikan dalam konteks politik, terisolasi secara internasional, dan tidak populer di kalangan publik.
Kritik terhadap Kebijakan Trump
Penilaian ini muncul dari sejumlah ahli yang menganggap kebijakan ini telah menciptakan jurang antara Amerika Serikat dengan mitra internasionalnya dan memicu sentimen negatif di kalangan pemilih, baik dalam negeri maupun di Eropa. Mereka khawatir bahwa kebijakan ini justru akan memicu peningkatan kemampuan pertahanan dan daya tawar Iran di Timur Tengah, bukan meredam dominasi mereka.
Perang AS-Israel dan Iran
Dua minggu setelah perang AS-Israel di Iran dimulai, banyak media Barat menggambarkan perang tersebut bukan sebagai keberhasilan yang menentukan, melainkan sebagai eskalasi yang berisiko dan berpotensi kontraproduktif. Perdebatan tersebut meluas melampaui medan perang itu sendiri. Para komentator berfokus pada ketiadaan strategi yang jelas, ketahanan struktur pemerintahan Iran, konsekuensi geopolitik dari terganggunya pasar energi, dan meningkatnya biaya politik akibat perang tersebut.
Perdebatan Strategi
Di beberapa media, bahasanya menjadi semakin blak-blakan. Para analis dan kolumnis mempertanyakan apakah perang tersebut telah merusak tujuan-tujuan yang seharusnya dicapai. Kritik utama yang muncul adalah kurangnya tujuan yang koheren dalam strategi tersebut.
Perpecahan di Gedung Putih
Menurut laporan yang diterbitkan pada 13 Maret, Gedung Putih sendiri tampaknya terpecah mengenai arah perang, mencatat bahwa para penasihat sudah memperdebatkan bagaimana Presiden Donald Trump mungkin menyatakan kemenangan meskipun tidak ada tujuan akhir yang jelas. Laporan tersebut mengatakan para pejabat terpecah antara mereka yang mendorong eskalasi lebih lanjut dan yang lainnya yang khawatir tentang dampak ekonomi dan konsekuensi politik.
Struktur Pemerintahan Iran
Badan intelijen AS tidak percaya struktur pemerintahan Iran akan segera runtuh meskipun ada kampanye militer. Penilaian ini melemahkan salah satu asumsi tersirat dari perang tersebut: bahwa tekanan militer dapat menggoyahkan Republik Islam.
Kekhawatiran Strategis
Para analis strategis telah menyuarakan kekhawatiran serupa tentang perencanaan Washington. Pembuat kebijakan AS tampaknya telah meremehkan kemampuan Iran untuk merespons secara asimetris dan menggunakan sistem energi global sebagai alat tawar-menawar. Analisis ini menekankan konsekuensi strategis dari ancaman Iran terhadap jalur pelayaran di sekitar Selat Hormuz, yang tetap menjadi pusat aliran minyak global.
Hubungan Perang dan Politik Domestik Trump
Tema lain yang muncul dalam komentar Barat adalah hubungan antara perang dan posisi politik domestik Trump. Beberapa analis berpendapat bahwa kelemahan politik Trump mungkin membantu menjelaskan keputusan untuk melancarkan perang. Mereka menulis bahwa pemerintahan tersebut tidak berupaya membangun dukungan publik atau mengartikulasikan alasan yang jelas untuk konflik tersebut.
Peran Aksi Militer
Aksi militer asing mungkin dipandang sebagai pengalih perhatian politik selama periode penurunan peringkat persetujuan dan kekhawatiran ekonomi. Perang tersebut juga mempersulit posisi sekutu politik di luar negeri. Konflik tersebut telah mengubah hubungan dekat Trump dengan para pemimpin konservatif Eropa menjadi beban politik.
Kritik Langsung
Beberapa kritik paling langsung muncul di halaman opini. Bahkan jika tujuan yang dinyatakan dari perang tersebut dilihat “dari sudut pandang terbaik dan paling positif,” kampanye tersebut tampaknya memperburuk masalah yang seharusnya diatasi. Salah satu harapan awal di Washington adalah bahwa penggulingan kepemimpinan Iran mungkin akan menghasilkan penerus yang lebih moderat. Namun, pernyataan mantan direktur CIA, David Petraeus, menunjukkan hasil sebaliknya.
Pengaruh Iran
Respons Iran, termasuk kemampuannya untuk mengancam pasokan energi global melalui Selat Hormuz, menunjukkan bahwa Teheran tetap memiliki pengaruh yang kuat meskipun mengalami kekalahan militer. “Jika rezim itu bertahan,” tulisnya, “mereka akan memiliki alasan kuat untuk menggandakan ambisi nuklirnya.”